Saat matahari sedang terbit dengan malu-malu.
Itulah awal kegaduhan kita yang baru.
Aku bertanya tentang hakku
Tapi kau memilih untuk membisu
Ku tanya lagi
Kau mulai menyahut ambigu
Ku tanya lagi dan lagi
Kau semakin tak menentu
Ketika itu, aku sedang lelah...
Sangat lelah !
Rasanya kata-katamu menyesakkan dadaku.
Aku serasa menjadi orang lain
Amarahku mulai memuncak
Tapi kau tak mengerti...
Kau yang seharusnya menjadi sebagian hidupku
Namun lebih terasa sebagai bosku.
Akhirnya saat amarahku tak terbendung lagi
Meluaplah kata tak sedap dari bibirku
Kau...
Kau juga begitu
Membalasku dengan kata-kata kasarmu
Taukah kau ?
Api hanya bisa dipadamkan dengan air.
Jika ditambah api jelas ia akan lebih membesar.
Salahku juga tak igin menjadi air
Salahku juga terus bersikeras menjadi api
Saat aku mencoba menjadi air...
Sudah terlambat
Kau sudah tak terlihat.
Banda Aceh, 6 Januari 2018
Peri syair ❤

Tidak ada komentar:
Posting Komentar